17 Februari 2026


Di tengah rutinitas yang padat, seringkali kita lupa untuk berhenti sejenak. Pagi dimulai dengan alarm yang memaksa kita bangun, dilanjutkan dengan pekerjaan, urusan rumah, dan berbagai tuntutan yang datang silih berganti. Sore pun penuh jadwal, dan malam berakhir dengan kelelahan yang terasa berat. Kapan terakhir kali kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas?

Memberi waktu untuk diam sebenarnya sederhana, tapi sering kali kita abaikan. Duduk sejenak tanpa ponsel, mematikan notifikasi, dan mendengarkan pikiran sendiri bisa membuka banyak hal. Kita mulai menyadari perasaan yang selama ini tertutup, pikiran yang berseliweran, dan keinginan yang terlupakan. Momen hening bukan sekadar menenangkan, tapi juga cara untuk mengenal diri sendiri.

Saya pernah mencoba satu metode sederhana: setiap pagi sebelum memulai pekerjaan, duduk lima menit di balkon, memejamkan mata, dan hanya bernapas. Awalnya terasa aneh, karena tubuh dan pikiran sudah terbiasa bergerak cepat. Tapi lama-kelamaan, lima menit itu menjadi ruang kecil yang berharga. Kita bisa memisahkan mana pikiran yang penting dan mana gangguan.

Selain itu, hening memberi perspektif baru terhadap masalah. Saat menghadapi tekanan pekerjaan atau konflik pribadi, seringkali kita bereaksi terburu-buru. Tapi setelah berhenti sejenak, menarik napas, dan memberi ruang pada diri, kita bisa melihat situasi lebih jernih. Solusi yang sebelumnya tidak terlihat kini muncul dengan lebih jelas, dan hati menjadi lebih tenang.

Hening juga memberi kesempatan untuk bersyukur. Ketika tubuh dan pikiran tenang, kita mulai memperhatikan hal-hal kecil: sinar matahari, aroma kopi pagi, atau suara burung. Hal sederhana ini membawa kebahagiaan nyata jika kita mau merasakannya.

Memberi waktu untuk hening tidak harus lama. Bahkan lima sampai sepuluh menit sehari bisa cukup. Yang penting adalah konsistensi. Rutinitas sederhana ini lambat laun membentuk kebiasaan menenangkan, membuat kita lebih sabar, fokus, dan siap menghadapi hari.

Cobalah hari ini, atau besok pagi, beri diri sendiri lima menit untuk berhenti. Duduk diam, tarik napas panjang, dan dengarkan pikiranmu. Biarkan dunia berjalan tanpa terburu-buru. Dari ruang kecil itu, kamu akan menemukan energi baru, perspektif baru, dan kesadaran lebih dalam tentang diri sendiri.


13 Februari 2026


Tidak ada momen besar yang benar-benar mendorong saya membuat blog ini. Tidak juga karena tiba-tiba merasa pandai menulis. Justru sebaliknya — saya hanya merasa butuh sebuah ruang.

Ruang untuk berhenti sebentar.

Belakangan saya sadar, hidup sering berjalan terlalu cepat. Hari berganti tanpa sempat benar-benar dipahami. Banyak hal terjadi, tapi tidak semua sempat direnungkan.

Dan mungkin, blog ini adalah cara saya memperlambat itu semua.

Saya ingin punya tempat untuk mencatat — bukan hanya hal besar, tapi juga hal-hal sederhana yang sering lewat begitu saja. Tentang teknologi yang saya pakai sehari-hari, hobi yang saya nikmati, hal-hal kecil yang saya pelajari, dan pemikiran yang kadang muncul di sela kesibukan.

Bukan untuk terlihat pintar.
Bukan juga untuk mengajari siapa-siapa.

Lebih seperti berbicara pada diri saya sendiri… hanya saja dituliskan.

Saya tidak tahu akan dibaca banyak orang atau tidak. Dan rasanya itu bukan tujuan utama. Kalau pun suatu hari ada yang menemukan tulisan ini lalu merasa, “Saya juga pernah merasakan itu,” mungkin itu sudah lebih dari cukup.

Blog ini saya beri nama Ruang Pelan bukan tanpa alasan. Saya ingin ruang ini menjadi pengingat — bahwa tidak semua hal harus tergesa. Bahwa berjalan pelan tetap membawa kita ke suatu tempat.

Mungkin blog ini akan bertumbuh pelan.
Mungkin juga saya akan menulis tanpa terburu-buru.

Dan itu tidak apa-apa.

Karena sejak awal, ruang ini memang tidak dibuat untuk tujuan berlari.

Namun sekedar menulis untuk dibaca lagi untuk belajar Mawas diri dan hati hati dalam melangkah 

— Setiyo


09 Februari 2026



Perjalanan Pagi yang Bermakna

Pagi ini, aku mengantar putriku ke SD kelas 6, menempuh jarak sekitar 15 km dalam waktu 15–20 menit. Meski perjalanan terbilang singkat, setiap detik terasa penuh arti.

Di jalan, pemandangan pagi begitu hidup. Anak-anak bergegas ke sekolah, orang tua lain juga mengantar anaknya, dan kendaraan lalu-lalang. Suasana sederhana ini ternyata menyimpan kehangatan tersendiri.

Senyum Anak: Kebahagiaan yang Tak Ternilai

Sesampainya di sekolah, putriku tersenyum padaku. Senyum sederhana itu mampu membuat hati terasa hangat dan bahagia. Rasanya semua hiruk-pikuk perjalanan sirna seketika.

Momen ini mengingatkanku bahwa kebahagiaan sering hadir dari hal-hal kecil: mengantar anak sekolah, melihat mereka tersenyum, dan menikmati detik-detik kebersamaan.

Kehadiran Orang Tua Itu Penting

Pengalaman sederhana ini mengajarkan aku bahwa menjadi orang tua bukan hanya tentang memberi materi atau nasihat. Kehadiran penuh perhatian di momen kecil—seperti perjalanan pagi ke sekolah—ternyata sangat berharga.

Senang rasanya bisa menjadi saksi setiap langkah putriku, melihat pertumbuhannya, dan merasakan kebahagiaan dari senyum yang ia berikan.

Refleksi untuk Orang Tua Lain

Bagi para orang tua, jangan lewatkan momen sederhana ini. Terkadang, satu senyum anak SD bisa menjadi sumber kebahagiaan terbesar dalam hidup kita. Hadirlah sepenuh hati, nikmati perjalanan pagi, dan hargai setiap detik kebersamaan dengan buah hati.

 

Kadang kita sibuk mengejar hal besar, sampai lupa bahwa kebahagiaan justru hadir dalam perjalanan sederhana. Pagi ini aku kembali diingatkan — selama masih bisa mengantar anak sekolah, berarti aku masih diberi waktu untuk menikmati momen berharga itu.

Pagi ini terasa seperti pagi pada umumnya. Jalanan ramai, waktu berjalan cepat, dan rutinitas kembali terulang.
Namun dari sebuah senyum kecil di depan gerbang sekolah, aku kembali diingatkan — kebahagiaan sering datang tanpa suara.

Pagi ini biasa saja.
Tapi hatiku pulang dengan rasa penuh.

 


07 Februari 2026


Akhir-akhir ini saya semakin percaya bahwa tidak semua hal harus berjalan cepat.

Dulu rasanya kalau tidak berlari, saya akan tertinggal. Melihat orang lain melangkah jauh, mencoba banyak hal, dan terlihat selalu sibuk, tanpa sadar membuat saya ikut mempercepat langkah.

Tapi semakin ke sini, saya justru belajar sesuatu yang berbeda.

Tidak apa-apa berjalan pelan.

Karena pelan bukan berarti berhenti.
Pelan bukan berarti kalah.
Pelan hanya berarti kita memilih menikmati perjalanan.

Ruang ini saya buat tanpa target muluk-muluk. Bukan untuk menjadi yang paling ramai, bukan juga untuk mengejar angka. Saya hanya ingin punya tempat untuk menulis — tentang hal-hal sederhana, pengalaman kecil, teknologi yang saya pakai, hobi yang saya jalani, dan mungkin sesekali tentang hidup yang ternyata tidak selalu perlu tergesa.

Mungkin tidak banyak yang membaca.
Dan itu tidak masalah.

Karena sejak awal, ruang ini juga saya buat untuk diri saya sendiri — tempat untuk berpikir sedikit lebih pelan di tengah dunia yang sering terasa terlalu cepat.

Kalau suatu hari ada yang ikut membaca, syukur.
Kalau tidak pun, ruang ini tetap ada.

Setidaknya, saya pernah berhenti sejenak… lalu menuliskannya. 

Salam Damai di Hati 

— Setiyo


05 Februari 2026

Tentang Ruang Pelan

Ruang Pelan adalah sebuah ruang sederhana untuk berhenti sejenak.

Ia lahir dari keinginan untuk melambat, di tengah hidup yang sering menuntut kita bergerak cepat, bereaksi cepat, dan mengambil keputusan tanpa sempat benar-benar mendengar diri sendiri.

Di sini, tulisan-tulisan hadir sebagai refleksi: tentang hidup, tentang perjalanan, tentang hal-hal kecil yang sering terlewat, dan tentang proses memahami diri dengan lebih jujur. Tidak untuk menggurui, tidak untuk menghakimi, dan tidak untuk memberi jawaban pasti.

Ruang Pelan percaya bahwa setiap orang memiliki ritmenya sendiri. Bahwa pelan bukan berarti tertinggal. Bahwa diam bukan berarti kalah. Dan bahwa tidak semua hal harus segera diselesaikan hari ini.

Blog ini ditulis oleh seseorang yang lebih memilih mengamati daripada terburu-buru, lebih suka merenung daripada berisik, dan percaya bahwa kata-kata yang lahir dari keheningan sering kali lebih jujur.

    Tanpa banyak nama.
    Tanpa banyak identitas.

Karena pada akhirnya, mungkin yang terpenting bukanlah siapa yang menulis, melainkan apa yang bisa dirasakan setelah membacanya.

Jika suatu tulisan di Ruang Pelan pernah menemani satu momen kecil dalam hidup Anda — saat lelah, saat ragu, atau saat ingin bernapas sebentar — maka ruang ini telah menjalankan fungsinya.

Selamat datang di Ruang Pelan.


Tempat untuk berpikir, bernapas, dan berjalan lebih pelan.


Kontak RuangPelan.com

Kontak RuangPelan.com

Halo! Silakan kirim pesan, saran, atau cerita kamu melalui form di bawah. Saya akan berusaha membalas secepat mungkin.


Tentang RuangPelan

Tentang RuangPelan

Selamat datang di RuangPelan.com, ruang kecil untuk berhenti sejenak, merenung, dan menemukan arti perjalanan hidup yang pelan tapi bermakna.

Di sini, saya berbagi refleksi, motivasi, dan pengalaman pribadi tentang bagaimana menjalani hidup tanpa tekanan, belajar melepaskan, dan fokus pada diri sendiri. Setiap artikel ditulis untuk menginspirasi, memberi energi positif, dan menjadi pengingat bahwa pelan bukan berarti tertinggal.

RuangPelan bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang proses. Di sini, kita belajar menghargai langkah kecil, menikmati perjalanan, dan memberi ruang pada diri untuk tumbuh.

Terima kasih sudah singgah. Semoga setiap kata di RuangPelan.com bisa memberi inspirasi dan ketenangan di tengah hiruk-pikuk kehidupan.


About

Ruang Pelan adalah tempat untuk berhenti sejenak — ruang untuk berpikir, bernapas, dan berjalan tanpa tergesa.

Baca selengkapnya →

Popular Posts