Kita sering kali menjalani hidup seolah-olah hanya sedang berpindah
dari Titik A ke Titik B. Dari sebuah rencana menuju pencapaian. Dari
posisi awal menuju target yang sudah ditentukan. Dalam proses
perpindahan itu, mata kita begitu terpaku pada garis akhir hingga lupa
merasakan tanah yang sedang kita pijak saat ini.
Banyak dari kita menghabiskan energi untuk mencemaskan masa depan.
Entah itu menunggu grafik pergerakan harga mencapai target yang kita
harapkan, menanti kepastian dari sebuah pekerjaan, atau sekadar berusaha
menyelaraskan langkah dengan seseorang yang dunianya bergerak di jalur
dan kecepatan yang berbeda dengan kita. Kita cemas ketika sesuatu tidak
terjadi secepat yang kita mau.
Namun, jika direnungkan kembali, ruang di antara 'memulai' dan
'sampai' itulah yang sebenarnya mendewasakan kita. Di ruang tunggu itulah
kesabaran kita diuji. Di sanalah kita belajar bahwa sekuat apa pun kita
menggenggam kendali, ada variabel-variabel tak terlihat yang memang
bukan bagian dari porsi kita untuk mengaturnya.
"Kecemasan sering kali lahir bukan karena kita tidak tahu
arah, melainkan karena kita memaksa waktu untuk berlari
mendahului takdirnya."
Berhenti sejenak dan melakukan refleksi membawa kita pada sebuah
penerimaan. Penerimaan bahwa tidak semua grafik akan selalu naik, dan
tidak semua pertanyaan harus dijawab hari ini juga. Terkadang, kita hanya
perlu menaruh kepercayaan pada proses yang sedang berjalan, sembari
tetap melakukan bagian kita dengan sebaik-baiknya.
Malam ini, cobalah untuk meletakkan sejenak beban ekspektasi itu.
Berdamailah dengan kenyataan bahwa ada hal-hal yang butuh waktu untuk
mekar dan menemukan ritmenya sendiri. Tarik napas panjang, rayakan
prosesmu hari ini, dan ikhlaskan apa pun hasil yang akan menyambut esok hari
19 Juni 2026
Jumat, Juni 19, 2026
Setiyo
Refleksi
No comments
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar